Respon Gerakan Nurani Bangsa

BRIN: Netralitas Jangan Dianggap Angin Lalu

Jumat, 19 Januari 2024 12:53 WIB

Peneliti senior politik BRIN, Prof. Lili Romli. Foto: Istimewa
Peneliti senior politik BRIN, Prof. Lili Romli. Foto: Istimewa

RM.id  Rakyat Merdeka – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengomentari kemunculan Gerakan Nurani Bangsa (GNB) yang diinisiasi sejumlah tokoh nasional seperti Sinta Nuriyah, istri Presiden ke-4 Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Alissa Wahid (putri sulung Gus Dur), mantan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Romo Ignatius Kardinal Suharyo, Pendeta Gomar Gultom, filsuf dan astronomer Karlina Rohima Supelli, hingga cendekiawan muslim Quraish Shihab.

“Saya kira, bisa mewakili keprihatinan publik terhadap penyelenggara Pemilu sekarang, yang ditengarai ada intervensi. Keprihatinan itu perlu direspon. Jangan sampai dianggap angin lalu saja,” kata peneliti senior politik BRIN, Prof. Lili Romli, Jumat (19/1/2024).

Prof. Lili menilai tokoh dan masyarakat tidak diam terkait adanya dugaan netralitas aparatur pemerintahan dalam Pemilu kali ini. Karenanya, Lili berharap Pemerintah mendengar aspirasi yang disuarakan hari-hari ini.

“Dengan adanya pernyataan, berarti memang sedang ada tanda-tanda tidak adanya netralitas. Pernyataan itu juga menjadi warning agar tidak ada pihak yang harusnya netral, tapi ikut terbawa di Pemilu 2024,” sebutnya.

Sebelumnya, sejumlah tokoh yang tergabung dalam Gerakan Nurani Bangsa (GNB) bertemu dengan para pemimpin media massa di Gedung Menara Global, Jakarta, Rabu (17/1/2024).

Salah satu pembahasan dalam pertemuan itu ialah mengajak masyarakat untuk menjaga Pemilu 2024 agar berlangsung jujur, adil, dan bermartabat.

GNB adalah gerakan etis dan moral yang diprakarsai para tokoh bangsa dan agama. Gerakan ini dikomandoi oleh Ibu Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid.

Dalam pertemuan itu, Ibu Sinta hadir didampingi antara lain, Romo Franz Magnis Suseno, Karlina Rohima Supelli, Pendeta Gomar Gultom, Erry Riyana Hardjapamekas, Prof Komaruddin Hidayat, Lukman Hakim Syaifuddin, dan Alissa Wahid.

Dalam pengantarnya, Ibu Sinta menyampaikan gerakan ini muncul karena keprihatinan dan kegelisahan terhadap situasi dan kondisi negara saat ini. Ia tidak ingin, proses pemilu yang sedang berlangsung saat ini justru bikin bangsa terpecah belah.

“Gerakan Nurani Bangsa untuk menyelamatkan bangsa ini yang sedang galau dan gelisah,” kata Ibu Sinta.

Juru Bicara GNB, Lukman Hakim Syaifuddin menyampaikan, slogan Pemilu jujur dan adil tidak cukup.

“Namun, Pemilu juga harus berjalan damai dan bermartabat,” ucapnya.

Sementara itu, Alissa Wahid menyampaikan gerakan ini ingin membangun kesadaran bersama agar Pemilu berlangsung jujur, adil, dan bermartabat.

Karena itu, GNB memulai agenda dengan mengunjungi para sesepuh bangsa seperti Presiden, Wakil Presiden, para mantan Presiden dan Wapres, dan tokoh-tokoh yang vokal.https://pembangkitkuku.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*